MENABUR DURI PADA HATI
sore itu kala hujan mengguyur kota jogja dengan begitu derasnya, aku termenung kaku menatap layar ponselku, entah sudah berapa lama aku seperti itu, hari semakin malam tapi hujan tak ada tanda tanda akan berhenti, sekilas ingin ku matikan layar ponnsel ku akan tetapi ingatan ini lebih memilih untuk mengulas cerita dibalik gambar yang berada di layar ponsel ku, yang mana tanpa sadar aku sudah berada diantara foto foto itu, sekilas memang tak terlihat istimewa bila dilihat dari sudut pandang fotografi, tapi sekelebat bayangan yang muncul di kepala kala cerita itu bermula sangat menarik perhatian ku.
bingkai demi bingkai cerita mulai tersusun secara teratur, dari awal perjumpaan hingga masing masing memilih diam tanpa kata dan cerita. waktu pun berjalan meninggalkan kisah asmara manis penuh gula, hingga beberapa waktu berlalu rasa itupun kembali membelenggu jiwa, rasa yang sudah ku simpan dalam dalam kembali muncul ke permukaan, bukan aku tak bisa melupakannya karena memang sejatinya aku tak pernah melupakannya dan tak pernah ingin untuk melupakannya.
bagiku kisah kami berjalan begitu singkat, memulai perjumpaan tanpa di sengaja lalu bercerita tentang kehidupan hingga saling percaya pada hati satu sama lain. sekian lama waktu berjalan lalu rasa ini semakin lama semakin tersimpan, semakin banyak pula kata yang terucapkan. janji janji manis mulai terlontarkan padahal jiwa sadar tak mampu mengabulkan, hingga pada akhirnya suatu keputusan harus diungkapkan tapi raga ini terlalu penakut untuk mengakuinya.
awal perjumpaan kami habiskan dengan berjalan bersama, menikmati angin pantai sore itu, menikmati setiap warna pada jejeran rumah yang tersusun rapi penuh bunga, juga menikmati warna baru yang hadir di kehidupan ku. sedikit demi sedikit waktu yang kami habiskan hingga tak terasa sudah beberapa jam kami habiskan untuk bersama, mendengar romansa cinta yang mulai menggerogoti jiwa. ketika hari semakin petang kami memutuskan untuk kembali, dan disitulah dimulainya perpisahan kami yang pertama, walaupun itu memang hanya perpisahan sementara yang sangat singkat.
beberapa waktu berlalu kami pun berjanji untuk bertemu kembali, pertemuan kali ini memang sedikit berbeda dengan pertemuan sebelumnya. kali ini kami bertemu dengan bermodalkan rasa rindu akan orang tersayang dan kali ini kami berencana untuk menghabiskan waktu bersama secara lebih lama. siang itu kami pun sampai pada pertemuan yang telah di rencanakan, lalu kami berjalan bersama melintasi berbagai tempat dan waktu. rasa sayang pun kian tumbuh membesar dan mulai menggerogoti kesepian yang menyelimuti hati.
waktu pun berjalan begitu cepat ketika aku mulai menikmati kebersamaan ini, entah sudah beberapa kali aku berpisah dengannya tapi selalu saja pertemuan dengannya selalu membuat ku lupa akan perpisahan itu. hingga tanpa tersadar aku sudah terlalu takut untuk menyakitinya, takut untuk membuatnya kecewa, takut kalau saja aku akan menghancurkan mimpi mimpinya. dan pada akhirnya aku pun memutuskan untuk pergi tanpa kata, aku membiarkan ia menduga duga dan mengeja, aku membiarkan ia membenci ku.
bagiku membuatnya nyaman dengan yang lain jauh lebih berharga daripada ia harus menunggu ku tanpa kejelasan tentang masa depan. aku bukan sengaja melepaskan untuk melupakan, aku sengaja melepaskan untuk sebuah impian.
impian ku untuk melihatnya bahagia bagaimana pun caranya.
Komentar
Posting Komentar